Monday, June 1, 2015

Wisuda UNJ


Wisuda Semester Ganjil Universitas negeri Jakarta
Tahun Akademik 2014-2015

Hari pengesahan dimana para mahasiswa resmi dinyatakan lulus dan berhak mendapatkan gelar berdasarkan keimuan masing-masing,itulah yang telah dirasakan oleh wisudan Universitas Negeri Jakarta(UNJ)  yang berhasil menyelesaikan studinya beberapa waktu lalu. Acara yang bertempat di Jakarta International Expo (JIEXPO), Kemayoran ini dihadiri oleh Rektor UNJ, para dosen UNJ, wisudan dan wisudawati  serta para orang tua yang turut mendampingi putra putrinya. Universitas Negeri Jakarta telah melaksanakan wisuda pada Selasa, 24 Maret 2015 sebanyak 1.908 orang lulusan, yang terdiri dari program Diploma III 82 orang, Sarjana 1.327 orang, Magister 295 orang, dan Doktor 204 orang. Sampai dengan semester ini, jumlah alumni UNJ sebanyak 95.512orang.
Pada momentum ini, Rektor UNJ Prof. Dr. Djaali,mengucapkan selamat kepada para wisudawan dan wisudawati yang telah berhasil menyelesaikan studinya. Selain itu beliau menjelaskan bahwa para wisudawan dan wisudawati berada di tengah masyarakat yang majemuk, yang berarti berbagai proses interaksi akan terjadi, seperti bekerjasama, saling membantu dan tolong menolong,dan membangun organisasi. Namun, mereka juga akan menghadapi persaingan yang tak mungkin dihindari.

Marina Aprilliani adalah salah satu wisudawati Administrasi Perkantoran Non Regular, Fakultas Ekonomi angkatan 2011. Bagi Marina, menjadi mahasiswa FE UNJ adalah sebuah kebanggaan terlebih lagi menempuh jenjang S1 dalam waktu 3,5 tahun. Bergaul dengan mahasiswa lain, canda tawa pun menemani hari-hari perkuliahan. Senada dengan Marina, Febryan Muhammad, mahasiswa Pendidikan Tata Niaga Non Reg angkatan 2010 juga berkata bahwa banyak sekali hambatan-hambatan yang dilalui saat penyusunan skripsi dan sidang skripsi namun semua itu memiliki kesan yang berarti. Lebih jauh lagi menguak lika liku perjuangan wisudawan, Neneng Saparini Agustiani, mahasiswa Pendidikan Akuntansi Reguler 2010 salah satu aktivis yang kini tengah menjabat sebagai Pengawas Bidang MSO LDK SALIM UNJ berpesan agar para mahasiswa Fakultas Ekonomi tetap semangat dalam menuntut ilmu dan istiqomah pada amanah yang diemban serta membalancekan agenda baik akademik,organisasi dan keluarga. 


“Harapan saya selaku dosen tentu saja agar para wisudan dan wisudawati FE tidak terpaku pada mencari pekerjaan saja, namun memiliki gagasan untuk menciptakan lapangan pekerjaan guna perekonomian Indonesia yang lebih baik,”ujar Ibu Widya Parimita, dosen D3 Sekretari. Bagi para wisudawan, berperang melawan rasa malas, berpacu dengan emosi, berirama dalam melodi perkuliahan, sekelibat permasalahan yang menguak saat merumuskan skripsi dan prosesi sidang skripsi kini telah berbuah manis. Semoga kedepannya FE dapat berkembang lagi menghasilkan insan-insan yang bermanfaat bagi almamater tercinta, bangsa dan agama.

Simpul Bangsa


Simpul Bangsa : Mahasiswa dan Pemberantasan Korupsi

“Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan obor penerang.”
-          Bapak Willy, Fungsional Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat dari Komisi Pemberantasan Korupsi

Setelah sukses dengan kajian Simpul Bangsa bertemakan DPRD vs Ahok bersama Ketua Departemen Sosial Politik BEM UNJ, Syahril Sidik beberapa waktu yang lalu, kini Simpul Bangsa kembali hadir dengan nuansa pergerakan mahasiswa yang kental. Tepat pada hari Sabtu, 14 Maret 2015 di Gedung Sertifikasi Guru Lantai 9 Kampus A UNJ, Pandu Aksi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (Pandawa FE UNJ) dan Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (BEM FE UNJ) mempersembahkan Simpul Bangsa yang mengusung tema mahasiswa dalam memberantas korupsi.
Tema tersebut diangkat sehubungan dengan maraknya kasus korupsi yang tak kunjung lenyap di Indonesia dan juga polemik yang terjadi antara KPK dan Polri beberapa pekan yang lalu. Dalam kajian ini, dua pembicara yang terundang merupakan Fungsional Direktorat Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat dari Komisi Pemberantasan Korupsi yakni Bapak Ardiansyah Putra dan Bapak Gumilar Prana Wilaga. Dalam acara ini, Ketua BEM FE UNJ 2015-2016, Achwal Farisi memberikan sepatah kata sambutan yang patut direnungi oleh seluruh civitas akademika. “Negara sakit yaitu negara dimana para akademisnya sangat apatis, pebisnisnya sangat opportunities. Bagaimanakah kita saat ini? Jangan sampai Indonesia menjadi negara sakit nantinya ketika kita, para mahasiswa tidak lagi peduli terhadap ibu pertiwi”, ujarnya.


            Indonesia adalah bumi ciptaan Tuhan dengan segala keindahan dan kekayaan alamnya. Indonesia pun menduduki kategori penduduk terbanyak nomor 4 di dunia. Dengan keberlimpahan alam Indonesia, sudah makmurkah rakyat Indonesia? Tentu saja belum karena korupsi masih menjangkiti negeri permai ini. Korupsi telah menjangkau seluruh aspek kehidupan di masyarakat, oleh sebab itu KPK membutuhkan orang-orang dari berbagai latar belakang tak terkecuali ibu rumah tangga sekalipun. Bapak Gumilar Prana Wilaga yang akrab disapa Bapak Willy ini memaparkan bahwa kaum perempuan memegang peranan penting dalam edukasi mengenai korupsi sedini mungkin di lingkup keluarga. Pasalnya korupsi sangatlah merugikan bangsa. Data terbaru yang disajikan yaitu dana sebesar Rp 168 Triliun merupakan estimasi total biaya eksplisit akibat 1842 koruptor yang diajukan ke meja hijau sepanjang tahun 2001-2012. Sementara itu biaya antisipasi hanya sebesar Rp 15 Triliun merupakan nilai total hukuman finansial terhadap 1842 terdakwa korupsi. Sisanya sebesar Rp 153 Triliun merupakan uang negara yang bersumber dari pembayar pajak. Dana tersebut terbilang bukanlah dana yang sedikit mengingat masih banyak aspek-aspek yang memerlukan perhatian lebih seperti kesejahteraan masyarakat, pengangguran, pendidikan, dan sebagainya.
Lebih jauh lagi menelaah korupsi di Indonesia, fakta yang cukup mengejutkan khalayak publik yakni Indonesia menduduki posisi ke-107 dari 175 di dunia dengan skor CPI 34 pada tahun 2014 lalu. Korupsi di Indonesia sudah begitu masif dan parah rupanya. Para pelaku korupsi pun (koruptor) telah mengalami regenerasi hingga kini para koruptor notabenenya adalah pemuda. Contohnya saja Fihdel Fouz yang masih berusia 29 tahun. 


Menurut Bapak Willy syarat seseorang dikatakan sebagai koruptor apabila hal yang dilakukan melibatkan penyelenggara negara atau penegak hukum, merugikan negara serta meresahkan masyarakat. Lalu bagaimana cara KPK mengatasi korupsi di Indonesia? Bapak Willy mengatakan ada 3 strategi pemberantasan korupsi yang dilakukan KPK yaitu penindakan berupa memberikan efek jera kepada koruptor, perbaikan sistem sebagai upaya menutup potensi dan peluang korupsi, serta edukasi dan kesadaran publik. Bapak Willy menambahkan, “Dalam pemberantasan korupsi, selain tiga strategi tersebut, diperlukan pula peranan mahasiswa berupa menginformasikan potensi penyimpangan yang terjadi, melaporkan tindak pidana korupsi, membantu memperjelas pengaduan masyarakat, menyajikan fakta bukan opini, memberikan guidance kepada masyarakat tentang bagaimana cara melaporkan kasus korupsi.”
Maka dapat disimpulkan, korupsi bisa terjadi bukan hanya karena ada celah atau kesempatan untuk melakukakan hal tersebut, melainkan pula kurangnya idealis sehingga mudah tergoyahkan karena jabatan yang membuai. Dan sudah seharusnya para mahasiswa bangkit dan menjadi duta anti korupsi dengan cara berlatih sedini mungkin menjadi pribadi yang berintegritas tinggi, pantang terlibat tindak pidana korupsi, turut serta dalam pemberantasan korupsi, dan mengajak masyarakat untuk melakukan hal yang sama yang mungkin bisa dilakukan melalui media kreatif seperti poster, lagu, dongeng dan film pendek. Semoga kedepannya korupsi di Indonesia dapat dihapuskan dengan kinerja KPK yang lebih baik lagi. Jika bukan kita yang turut memberantas korupsi, siapa lagi? Jika bukan sekarang, kapan lagi?


Monday, May 11, 2015

Tugas PAM 1 (Public Hearing Berbagai Profesi di UNJ)


Selayang Pandang Universitas Negeri Jakarta
Oleh : Siska Rahmiati

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) merupakan satu-satunya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang terdapat di jantung Indonesia, Ibukota Provinsi DKI Jakarta. Tempat saya menapaki perjalanan pendidikan lanjutan seusai menamatkan diri dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) tahun lalu. UNJ menuai lembaran baru dalam kehidupan saya dimulai dengan Masa Perkenalan Akademik tahun 2014 silam. Banyak kisah menarik yang dapat ditelisik lebih dalam mengenai kampus yang mahsyur akan pendidikan dan pergerakan mahasiswanya ini juga fakultas tercinta saya, Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta (FE UNJ).
FE UNJ kini telah genap memasuki satu dekade dies natalisnya. Suka duka fakultas ini menjadi sebuah melodi kehidupan salah seorang karyawan FE UNJ, Bapak Sukanta yang berdomisili di wilayah Bekasi. Bapak Sukanta yang akrab disapa Pak Kanta ini telah mengabdikan diri selama tiga tahun lebih merawat Gedung N Fakultas Ekonomi. Berkat sosok yang berusia 40 tahun inilah proses pembelajaran di FE UNJ berjalan dengan lancar walau terkadang tak sedikit rintangan yang datang. Beliaulah yang memastikan agar Gedung N terjaga kebersihan dan kenyamanan ruang kelasnya. Beliau pula yang memegang kunci gedung mungil tempat perkuliahan bagi mahasiswa ekonomi berlangsung. Bekerja dengan ikhlas dan pantang mengeluh, pelajaran itulah yang dapat saya petik pada sabtu siang (9/5/15) usai mewawancarai Pak Kanta dalam rangka pemenuhan tugas public hearing Pelatihan Advokasi Mahasiswa.
Terkait isu-isu yang beredar di seputar kampus, Pak Kanta mengakui bahwa beliau lebih menitikberatkan pada isu yang terdapat di Fakultas Ekonomi. Pasalnya beliau menjabarkan mengenai kasus yang menimpa mahasiswa Fakultas Ekonomi beberapa waktu lalu tentang hipnotis dan penipuan seminar di Bali yang mengatasnamakan FE UNJ. Dalam kasus itu, seseorang yang kita asumsikan saja X menelepon beberapa mahasiswa dan alumni FE UNJ bahwa akan terselenggaranya seminar di Bali dengan HTM yang cukup menguras kantong. Para korban yang mengangkat telepon tersebut dapat dengan mudah percaya pada X layaknya tengah terhipnotis dan kemudian mentransfer sejumlah uang ke rekening yang X sebutkan. Esok harinya para mahasiswa yang sudah siap untuk berangkat ke Bali ini tersadar ketika para dosen dan bagian kemahasiswaan FE menyatakan tidak ada seminar apapun yang FE UNJ selenggarakan di Bali. Begitulah kiranya cuplikan kasus yang Pak Kanta paparkan kepada saya.
Keluh kesah Pak Kanta selama bekerja di FE UNJ pun beliau ungkapkan kepada saya bahwa masih minimnya kesadaran Mahasiswa FE UNJ dalam hal menjaga kebersihan di lingkungan kampus. Beliau berharap kedepannya FE UNJ semakin baik dalam hal kebersihan lingkungan, fasilitas pembelajaran juga kualitas pengajaran di kelas.
Memasuki senja di Universitas Negeri Jakarta pada Sabtu kemarin, saya melanjutkan petualangan mencari sosok yang bersedia saya telusuri lebih dalam mengenai UNJ. Dan langkah kaki saya terhenti di depan UPT Perpustakaan Kampus A UNJ. Beranjak menaiki tangga menuju lantai 2, saya pun memberanikan diri menanyai seorang pustakawan yang telah bekerja di UPT Perpustakaan kisaran kurang dari 1 tahun lamanya, Bapak Hermawan W. Pria berusia 28 tahun ini mengaku salut terhadap UNJ. Pasalnya semenjak Pak Hermawan bergabung bersama UNJ, beliau melihat banyak kemajuan yang terjadi di lingkungan kampus. Mulai dari kebersihan kampus hingga tata letak gedung-gedung yang terdapat di UNJ itu sendiri. Pada UPT Perpustakaan pun terlihat sekali kemajuan yang berarti dan pembaharuan fasilitas mulai dari tas hijau perpus yang diperuntukan bagi mahasiswa UNJ yang mengunjungi UPT Perpustakaan. Tas ini telah ada sejak 6 bulan yang lalu. Dilanjut lagi dengan adanya loker-loker yang menunjang keamanan tas pengunjung. Dan apabila melihat keluar UPT terdapat tulisan bergerak atau bahasa trendnya walking text yang isinya mengucapkan selamat datang kepada para pengunjung UPT Perpustakaan.
Keluh kesah bekerja sebagai pustakawan tentunya berkaitan dengan buku. Iya, masih banyak mahasiswa yang mengembalikan buku pinjaman tidak sesuai dengan tenggat waktunya alias telat. Pak Hermawan pun berharap agar kedepannya Mahasiswa UNJ mengerti akan arti tepat waktu dalam pengembalian buku pinjaman dan menghargai dengan benar setiap buku yang dipinjam dengan cara tidak mencoret-coret isi buku, tidak membuat buku tersebut sobek dan berupaya menjaga kerapihan buku. Dan harapan untuk UNJ kedepannya semakin baik dalam hal manajemen, kebersihan serta kepegawaian di UNJ. Terkait isu dalam kampus, Pak Hermawan hanya mendengar sekilas saja tidak mengetahui lebih dalam sehingga enggan untuk berkomentar pada perbincangan yang kami lakukan.
Setelah puas dengan kedua narasumber tersebut, saya pun melangkahkan kaki menuju belakang UNJ. Berniat untuk pulang, tetapi niat itu saya urungkan tatkala melihat para petugas parkir yang bekerja maupun yang sedang beristirahat. Teringat akan isu parkiran UNJ, saya memberanikan diri masuk ke sebuah ruang kecil yang merupakan tempat para petugas parkir ini beristirahat sejenak. Beruntung sekali ketika saya bertemu dengan leader parkiran UNJ, Bapak Hendra Irama yang bertempat tinggal di daerah Penggilingan. Dengan antusiasme beliaupun mengutarakan seputar UNJ dan kesan pesan beliau akan UNJ. Perbincangan kami pun diakhiri dengan isu terkait UNJ yang Pak Hendra ketahui. Senada dengan Pak Hermawan yakni mengenai tindak asusila dosen FIS terhadap salah seorang mahasiswi UNJ dan aksi yang berlangsung beberapa silam lalu di depan Gedung Rektorat UNJ.
Hanya itu saja yang dapat saya telisik mengenai selayang pandang Universitas Negeri Jakarta, public hearing dari berbagai profesi yang terdapat di Kampus UNJ. Sekian dan terima kasih kepada panitia Pelatihan Advokasi Mahasiswa (PAM) dan juga pihak-pihak terkait.

Siska Rahmiati
8105142659
Kelompok 10
Jurusan Ekonomi & Administrasi
Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Jakarta