Monday, December 29, 2014

Latihan Soal Pengantar Ilmu Ekonomi (Teori Biaya Produksi)


Latihan Soal 


            A.      Pilihan ganda

1.       Yang manakah berikut ini ini yang digolongkan sebagai biaya tetap?
a.       Sewa pabrik
b.      Biaya penggunaan listrik
c.       Biaya penggunaan air
d.      Biaya penggunaan minyak untuk mobil perusahaan

2.       Yang tidak termasuk ke dalam jenis-jenis biaya produksi
a.       Biaya administrasi
b.      Biaya pemasaran
c.       Biaya kerugian
d.      Biaya keuangan

3.       Biaya marjinal akan mulai meningkat ketika....
a.       Produksi total mulai menurun
b.      Biaya produksi total mencapai maksimum
c.       Biaya produksi rata-rata mencapai minimum
d.      Produksi marjinal mulai merosot

4.       Yang manakah dari pernyataan berikut adalah yang paling tepat?
a.       Kurva biaya marjinal memotong AC pada nilai AC yang paling maksimum
b.      Kurva biaya marjinal memotong AC dan AVC pada titik- titiknya yang paling minimum
c.       Kurva biaya marjinal naik dari kiri bawah ke kanan atas
d.      Kurva biaya marjinal selalu memotong AC dan AVC di sebelah kiri AC dan AVC

5.       Faktor yang mempengaruhi skala ekonomis adalah...
a.       Tingkat produksi yang ingin dicapai
b.      Spesialisasi faktor produksi
c.       Sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia
d.      Harga input yang digunakan dalam proses produksi.

              B.      Esai

1.       Jelaskan definisi dan rumus jenis biaya produksi dibawah ini:
a.       Total Cost(TC)
b.      Average Cost(AC)
c.       Average Fixed Cost (AFC)
d.      Average  Variabel Cost (AVC)
e.      Marginal Cost (MC)

2.       Bagaimana cara meminimumkan biaya produksi jangka panjang?
3.       Di dalam jangka pendek maupun jangka panjang kurva biaya AC berbentuk huruf U. Jelaskan mengapa bisa menyebabkan sifat kurva AC tersebut!
4.       Jelaskan hubungan antara kurva AC, AVC dan MC!
5.       Bagaimana bisa terjadi keadaan dimana skala tidak ekonomis?

               C.      Kuantitatif

1.       Fixed Cost yang dikeluarkan suatu perusahaan bernilai Rp. 60.000. Variabel Cost pada berbagai tingkat produksi sebagai berikut:
(dalam ribuan rupiah)

Tenaga Kerja (L)
Jumlah Produksi (Q)
FC
VC
TC
AFC
AVC
AC
MC
0
0
60
30





1
1
60
50





2
3
60
65





3
6
60
75





4
10
60
80





5
13
60
90





6
15
60
110





7
16
60
150






















Hitunglah:
a.       Total Cost (TC)
b.      Average Fixed Cost (AFC)
c.       Average  Variabel Cost (AVC)
d.      Average Cost (AC)
e.      Marjinal Cost (MC)
f.        Gambarkan Kurvanya!













Kunci Jawaban

A.             Pilihan Ganda
1.    A
2.    C
3.    C
4.    B
5.    B

B.             Esai
1.              Jenis Biaya Produksi
a.       Total Cost (TC) adalah keseluruhan jumlah ongkos produksi yang dikeluarkan oleh perusahaan. Jumlah antara total biaya tetap dan biaya variabel produksi.  TC = FC + VC
b.      Average Cost (AC) adalah perbandingan antara total cost (TC) untuk memproduksi sejumlah barang dengan jumlah produksi yang dihasilkan (Q). AC = TC/Q
c.        Average Fixed Cost (AFC) adalah perbandingan antara fixed cost (FC) dengan jumlah produksi yang dihasilkan (Q). AFC = FC/Q
d.       Average Variabel Cost (AVC) adalah perbandingan antara variabel cost (VC) dengan jumlah produksi yang dihasilkan (Q). AVC =  VC/Q
e.       Marginal Cost (MC) adalah perbandingan antara kenaikan ongkos produksi total yang dihasilkan dengan kenaikan jumlah produksi yang dihasilkan.    MC = TC/Q

2.              Dalam analisis ekonomi kapasitas pabrik digambarkan oleh kurva biaya rata-rata ( AC = Average Cost). Peminimuman biaya jangka panjang tergantung kepada 2 faktor berikut :
·         Tingkat produksi yang ingin dicapai
·         Sifat dari pilihan kapasitas pabrik yang tersedia

3.              Sebagai akibat dari hukum the law of marginal utility , kurva AVC akan berbentuk U yaitu mula-mula menurun dan  kemudian menaik kembali. Oleh karena AC = FC + VC , maka kurva AC juga berbentuk U dimana kurva AVC semakin mendekati kurva AC.

4.              Hubungannya adalah kurva MC akan selalu memotong kurva AC dan AVC padaa titik terendah (biaya minimum) kedua kurva tersebut.

5.              Ineconomic scale terjadi apabila pertambahan produksi barang yang dihasilkan menyebabkan ongkos produksi rata-rata menjadi semakin tinggi.
C.             Kuantitatif
(dalam ribuan rupiah)
Tenaga Kerja (L)
Jumlah Produksi (Q)
FC
VC
TC
AFC
AVC
AC
MC
0
0
60
30
90
-
-
-
-
1
1
60
50
110
60
50
110
20
2
3
60
65
125
20
21,67
41,67
7,5
3
6
60
75
135
10
12,5
22,5
3,33
4
10
60
80
140
6
8
14
1,25
5
13
60
90
150
4,62
6,92
11,54
3,33
6
15
60
110
170
4
7,33
11,33
10
7
16
60
150
210
3,75
9,38
13,13
30




















                                                                                                                          


Monday, November 10, 2014

Tugas Presentasi Kelompok Ekonomi


Tugas Presentasi Kelompok Ekonomi





Tugas Kelompok Ekonomi 










 


























Profil Anggota Kelompok

 Dwita Septiana
8105142660



Gloria
8105141533



Rahayu Kencana
8105142686



Siska Rahmiati
8105142659


Sunday, November 9, 2014

Tinjauan Kritis Akan Buku


Eksistensi  Buku  di  Kalangan Mahasiswa
                                   
Buku sejatinya merupakan “The source of Knowledge”. Iya, buku merupakan pusat dari segala ilmu di muka bumi ini. Buku merupakan sebuah asset dari ilmu dan pembelajaran hidup. Buku merupakan reproduksi ilmu pengetahuan. Buku layaknya sebuah berlian yang sangat bernilai harganya. Mulai dari usia belia hingga usia yang mencapai tingkat kepala lima, semua jenjang usia tersebut pasti mempunyai koleksi buku yang mereka suka. Usia balita contohnya pada masa-masa itu mereka pasti menyukai buku yang berbau buku dongeng dan cerita rakyat. Lalu disusul pada zaman anak-anak yang beseragam putih merah tentu saja sebagian dari mereka menyukai buku-buku yang berbau cerita jenaka dan komik-komik bergambar seperti komik Doraemon. Dan hingga tiba masanya berseragam putih biru yang lebih menyukai buku-buku pengetahuan dan biografi tokoh-tokoh  ternama. Hingga akhirnya mereka beranjak remaja berseragamkan putih abu-abu tentu saja menyukai novel romance. Juga para mahasiswa yang memerlukan beranekaragam buku.
Berbicara mengenai mahasiswa, sejatinya seorang mahasiswa memiliki tugas utama sebagai “agent of change” bangsa ini. Memiliki peranan yang penting dalam membangun bangsa sudah sepantasnya mereka harus memiliki landasan ilmu yang kokoh. Hal itu dapat dicapai dengan kebudayaan membaca sebuah buku. Seorang mahasiswa harus memiliki wawasan yang luas sehingga memiliki pemikiran yang kritis dalam menghadapi permasalahan bangsa Indonesia. Sebagai kaum intelektual, sudah selayaknya jika kaum mahasiswa memiliki ketertarikan pada buku. Ketertarikan pada membaca buku hingga pada titik klimaks ketertarikan untuk menciptakan karya dengan menulis buku.
Buku bagaikan sahabat bagi para mahasiswa karena sangat bermanfaat. Buku ialah gudang ilmu. Di dunia kampus masa kini, buku menjadi sebuah pijakan dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah serta dalam proses perkuliahan itu sendiri. Namun sangat disayangkan, karena hanya sebagian kecil mahasiswa saja yang mengerti makna penting dari sebuah buku.
Terlebih lagi, memasuki era globalisasi masa kini dimana internet mulai menjarah peradaban manusia hingga akhirnya membuat para mahasiswa melupakan buku dan berpindah haluan pada internet. Saya akui, internet memang memudahkan kita dalam mencari informasi-informasi yang kita perlukan. Tetapi, hal ini bukan berarti internet bisa menggantikan fungsi dasar sebuah buku.
Maraknya penyalahgunaan internet di kalangan mahasiswa sangat memprihatinkan. Banyak mahasiswa yang menggunakan jalan pintas dengan mengcopy paste tugas dari sumber-sumber intenet. Hal ini seharusnya tidak mungkin terjadi apabila mereka memiliki referensi dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah. Nah referensi itu dapat digali pada buku-buku yang mereka miliki maupun buku-buku yang terdapat di perpustakaan kampus maupun perpustakaan negara.
Di sisi lain, alhamdulillah masih banyak kalangan kaum intelektual  yang menjaga peradaban buku pada era masa kini. Mereka menyukai buku-buku dan menjadikan buku sebagai sahabat mereka dalam referensi pengerjaan tugas dan bahkan mereka mengkoleksi buku-buku di rumah mereka. Koleksi buku mulai dari buku filsafat, keagamaan, ekonomi hingga buku-buku yang beraliran novel romantis.
Wahai kawan-kawan seperjuanganku di bangku perkuliahan, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masuk ke dalam tipe pertama yang memiliki kecendrungan cinta pada internet dan oposisi pada buku atau masuk ke dalam tipe kedua yang menjaga kelestarian budaya membaca buku? Sungguh naïf apabila kita semua mengatakan bahwa kita adalah kaum intelektual padahal kita tidak memiliki satupun buku di lemari belajar kita. Tengoklah sejenak lemari buku di rumah kita dan ambilah satu buku kemudian bacalah. Karena dengan membaca akan membuat kita keluar dari belenggu kebodohan.

Puisi


Dimanakah Suara Kami Akan Bermuara Kini??

 

Wahai anggota dewan yang bijaksana..
Akankah suara kami Engkau dengar?
Akankah jeritan kami Engkau hiraukan?
Akankah demokrasi kami Engkau sambut?

Wahai pejabat-pejabat Kebon Sirih dan Senayan..
Mengapa Engkau rayu kami tuk memilihmu?
Mengapa Engkau tipu dayakan kami tuk memihakmu?
Mengapa Engkau cuci otak kami tuk mendukungmu?

Dengan segala syair-syair kampanyemu yang meyakinkan
Dengan segala janjimu yang begitu manis layaknya madu sang lebah
Dengan segala kedermawananmu tuk memprioritaskan rakyat
Dengan segala sumpah setiamu akan pengabdian kepada Tanah Air

Kami memilihmu
Kami berpihak padamu
Kami mendukungmu
Kami jembatani Engkau tuk jadi perwakilan kami di singgasana pemerintah

Iya, kami percaya padamu..

Waktu trus bergerak
Hingga tiba saatnya Engkau menunjukkan pengabdianmu pada ibu pertiwi
Namun inilah..
Bukti nyata ketidaklayakanmu menjadi perwakilan kami

RUU Pilkada
Bukti nyata bahwa Engkau hanya memanfaatkan kami demi kepentingan golonganmu
Bukti nyata bahwa Engkau ingin menusuk kami secara perlahan
Menusuk kami dengan mengambil suara kami
Menusuk kami dengan membungkam aspirasi kami

Sungguh politik yang kejam nan egois

Ohh sungguh betapa malangnya nasib kami
Menjadi kaum minoritas
Menjadi kaum yang teracuhkan
Menjadi kaum yang tuna wicara

Takdir tlah berbicara
Tersahkanlah UU PIlkada oleh Ibu Popong
Yang membuat kami begitu larut dalam kekecewaan
Begitu larut dalam kesunyian demokrasi di tanah sendiri

Kami sebagai insan minoritas
Kini hanya bisa menggigit jari
Akan ketidakberdayaan kami menentang
Hingga akhirnya harus kembali lagi pada rezim orde baru Soeharto

Satu pertanyaan terbesit di benak kami
Jawablah!
Wahai perwakilan kami..
Dimanakah suara kami akan bermuara kini?