Monday, November 10, 2014

Tugas Presentasi Kelompok Ekonomi


Tugas Presentasi Kelompok Ekonomi





Tugas Kelompok Ekonomi 










 


























Profil Anggota Kelompok

 Dwita Septiana
8105142660



Gloria
8105141533



Rahayu Kencana
8105142686



Siska Rahmiati
8105142659


Sunday, November 9, 2014

Tinjauan Kritis Akan Buku


Eksistensi  Buku  di  Kalangan Mahasiswa
                                   
Buku sejatinya merupakan “The source of Knowledge”. Iya, buku merupakan pusat dari segala ilmu di muka bumi ini. Buku merupakan sebuah asset dari ilmu dan pembelajaran hidup. Buku merupakan reproduksi ilmu pengetahuan. Buku layaknya sebuah berlian yang sangat bernilai harganya. Mulai dari usia belia hingga usia yang mencapai tingkat kepala lima, semua jenjang usia tersebut pasti mempunyai koleksi buku yang mereka suka. Usia balita contohnya pada masa-masa itu mereka pasti menyukai buku yang berbau buku dongeng dan cerita rakyat. Lalu disusul pada zaman anak-anak yang beseragam putih merah tentu saja sebagian dari mereka menyukai buku-buku yang berbau cerita jenaka dan komik-komik bergambar seperti komik Doraemon. Dan hingga tiba masanya berseragam putih biru yang lebih menyukai buku-buku pengetahuan dan biografi tokoh-tokoh  ternama. Hingga akhirnya mereka beranjak remaja berseragamkan putih abu-abu tentu saja menyukai novel romance. Juga para mahasiswa yang memerlukan beranekaragam buku.
Berbicara mengenai mahasiswa, sejatinya seorang mahasiswa memiliki tugas utama sebagai “agent of change” bangsa ini. Memiliki peranan yang penting dalam membangun bangsa sudah sepantasnya mereka harus memiliki landasan ilmu yang kokoh. Hal itu dapat dicapai dengan kebudayaan membaca sebuah buku. Seorang mahasiswa harus memiliki wawasan yang luas sehingga memiliki pemikiran yang kritis dalam menghadapi permasalahan bangsa Indonesia. Sebagai kaum intelektual, sudah selayaknya jika kaum mahasiswa memiliki ketertarikan pada buku. Ketertarikan pada membaca buku hingga pada titik klimaks ketertarikan untuk menciptakan karya dengan menulis buku.
Buku bagaikan sahabat bagi para mahasiswa karena sangat bermanfaat. Buku ialah gudang ilmu. Di dunia kampus masa kini, buku menjadi sebuah pijakan dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah serta dalam proses perkuliahan itu sendiri. Namun sangat disayangkan, karena hanya sebagian kecil mahasiswa saja yang mengerti makna penting dari sebuah buku.
Terlebih lagi, memasuki era globalisasi masa kini dimana internet mulai menjarah peradaban manusia hingga akhirnya membuat para mahasiswa melupakan buku dan berpindah haluan pada internet. Saya akui, internet memang memudahkan kita dalam mencari informasi-informasi yang kita perlukan. Tetapi, hal ini bukan berarti internet bisa menggantikan fungsi dasar sebuah buku.
Maraknya penyalahgunaan internet di kalangan mahasiswa sangat memprihatinkan. Banyak mahasiswa yang menggunakan jalan pintas dengan mengcopy paste tugas dari sumber-sumber intenet. Hal ini seharusnya tidak mungkin terjadi apabila mereka memiliki referensi dalam pengerjaan tugas-tugas kuliah. Nah referensi itu dapat digali pada buku-buku yang mereka miliki maupun buku-buku yang terdapat di perpustakaan kampus maupun perpustakaan negara.
Di sisi lain, alhamdulillah masih banyak kalangan kaum intelektual  yang menjaga peradaban buku pada era masa kini. Mereka menyukai buku-buku dan menjadikan buku sebagai sahabat mereka dalam referensi pengerjaan tugas dan bahkan mereka mengkoleksi buku-buku di rumah mereka. Koleksi buku mulai dari buku filsafat, keagamaan, ekonomi hingga buku-buku yang beraliran novel romantis.
Wahai kawan-kawan seperjuanganku di bangku perkuliahan, bagaimana dengan Anda? Apakah Anda masuk ke dalam tipe pertama yang memiliki kecendrungan cinta pada internet dan oposisi pada buku atau masuk ke dalam tipe kedua yang menjaga kelestarian budaya membaca buku? Sungguh naïf apabila kita semua mengatakan bahwa kita adalah kaum intelektual padahal kita tidak memiliki satupun buku di lemari belajar kita. Tengoklah sejenak lemari buku di rumah kita dan ambilah satu buku kemudian bacalah. Karena dengan membaca akan membuat kita keluar dari belenggu kebodohan.

Puisi


Dimanakah Suara Kami Akan Bermuara Kini??

 

Wahai anggota dewan yang bijaksana..
Akankah suara kami Engkau dengar?
Akankah jeritan kami Engkau hiraukan?
Akankah demokrasi kami Engkau sambut?

Wahai pejabat-pejabat Kebon Sirih dan Senayan..
Mengapa Engkau rayu kami tuk memilihmu?
Mengapa Engkau tipu dayakan kami tuk memihakmu?
Mengapa Engkau cuci otak kami tuk mendukungmu?

Dengan segala syair-syair kampanyemu yang meyakinkan
Dengan segala janjimu yang begitu manis layaknya madu sang lebah
Dengan segala kedermawananmu tuk memprioritaskan rakyat
Dengan segala sumpah setiamu akan pengabdian kepada Tanah Air

Kami memilihmu
Kami berpihak padamu
Kami mendukungmu
Kami jembatani Engkau tuk jadi perwakilan kami di singgasana pemerintah

Iya, kami percaya padamu..

Waktu trus bergerak
Hingga tiba saatnya Engkau menunjukkan pengabdianmu pada ibu pertiwi
Namun inilah..
Bukti nyata ketidaklayakanmu menjadi perwakilan kami

RUU Pilkada
Bukti nyata bahwa Engkau hanya memanfaatkan kami demi kepentingan golonganmu
Bukti nyata bahwa Engkau ingin menusuk kami secara perlahan
Menusuk kami dengan mengambil suara kami
Menusuk kami dengan membungkam aspirasi kami

Sungguh politik yang kejam nan egois

Ohh sungguh betapa malangnya nasib kami
Menjadi kaum minoritas
Menjadi kaum yang teracuhkan
Menjadi kaum yang tuna wicara

Takdir tlah berbicara
Tersahkanlah UU PIlkada oleh Ibu Popong
Yang membuat kami begitu larut dalam kekecewaan
Begitu larut dalam kesunyian demokrasi di tanah sendiri

Kami sebagai insan minoritas
Kini hanya bisa menggigit jari
Akan ketidakberdayaan kami menentang
Hingga akhirnya harus kembali lagi pada rezim orde baru Soeharto

Satu pertanyaan terbesit di benak kami
Jawablah!
Wahai perwakilan kami..
Dimanakah suara kami akan bermuara kini?


Wednesday, October 8, 2014

Tinjauan Kritis Ujian Nasional


Ujian Nasional, Jurang Kehancuran Pendidikan di Indonesia..
                                                        
Gambaran umum mengenai Ujian Nasional adalah sistem evaluasi pendidikan di tanah air sebagai tolak ukur kelulusan para siswa dari bangku sekolah yang tengah dijalaninya. Berdasarkan keputusan pemerintah, nilai Ujian Nasional memilki bobot persentase nilai yang lebih tinggi daripada Ujian Sekolah yakni berkisar 60% sementara Ujian Sekolah hanya 40%. Dengan demikian, tak khayal jika UN menjadi momok yang cukup mengerikan bagi kalangan pelajar di Indonesia.
Jika kita melihat kembali sejarah perjalanan sistem pendidikan nasional khususnya dalam hal evaluasi, Indonesia sebenarnya telah menerapkan sistem evaluasi yang fluktuatif dari masa ke masa. Pada tahun 1950-1960-an Indonesia menerapkan Ujian Penghabisan. Tahun 1965-1971 menjadi Ujian Negara. Kemudian tahun 1972-1979 ujian dilaksanakan oleh sekolah masing-masing. Tahun 1980-2000 dilakukan Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (EBTANAS). Baru pada tahun 2001-2004 berlaku Ujian Akhir Nasional (UAN) yang selanjutnya pada tahun 2005 berganti nama menjadi Ujian Nasional (UN).
Sejatinya pemerintah mengadakan UN memiliki tujuan yang baik yaitu untuk mengukur pencapaian hasil belajar para siswa selama ia bersekolah. Hal ini juga dilakukan pemerintah untuk memantau apakah sistem pembelajaran di sekolah-sekolah sudah terbilang sukses atau belum. Karena pemerintah yakin dengan kualitas pendidikan yang bagus maka akan menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang bagus pula. UN juga menjadi alat penilaian pada daerah-daerah di Indonesia, manakah daerah yang perlu perhatian khusus dari pemerintah untuk ditingkatkan mutu pendidikannya serta fasilitas pendidikan yang diperlukan oleh daerah tersebut. Pemerintah juga menjunjung tinggi pendidikan yang bermutu yakni pendidikan yang berhasil membentuk siswa yang cerdas, berkarakter, bermoral, dan berkepribadian sesuai dengan pasal 1 ayat (1) UU Sisdiknas. 
Namun pada realitas kehidupannya, banyak kecurangan yang terjadi dalam pelaksanaan UN. Banyak pro dan kontra dari berbagai pihak. Dan banyak problematika yang belum ada titik temunya. Banyak desas desus mengenai kunci jawaban UN dan sebagainya.
 Pihak-pihak yang pro pada umumnya berasal dari kalangan pemerintahan serta pihak-pihak yang diuntungkan karena adanya UN yaitu para penerbit buku karena mereka dapat menjajakan buku-buku karya mereka mengenai pembahasan soal-soal UN. Sementara mereka yg kontra hampir sebagian merupakan kritikus pendidikan dan masyarakat. Gambaran umum UN jika dilihat dari sisi pihak oposisi pemerintah bahwa UN hanyalah sebuah kamuflase Pemerintah agar kinerjanya dipandang baik oleh masyarakat. UN juga menjadi sebuah pencitraan yang kian dipertontonkan oleh Kemendikbud.
Dalam hal ini penulis tidak akan memihak dan berusaha untuk netral mengenai UN. Karena setiap permasalahan tentu memiliki dampak positif dan tentu saja memiliki dampak negatif.
Ujian Nasional merupakan hal yang positif bagi pendidikan Indonesia apabila dalam pelaksanaannya tidak ada perilaku-perilaku yang menyimpang dengan norma-norma. Ujian Nasional juga memiliki potensi untuk lebih ditingkatkan lagi sistem pelaksanaannya. Hal ini seperti yang telah dicanangkan pemerintah yaitu Sistem UN Online 2015 yang akan menggunakan sistem trial dan error.
Sejatinya program pemerintah dalam rangka meningkatkan pendidikan Indonesia sudah cukup baik sejauh ini. Hanya saja, dalam praktiknya masih saja mengalami kendala-kendala baik dari segi SDMnya hingga masalah-masalah terkait dengan UN itu sendiri. Banyak oknum yang melakukan pelanggaran dengan menjual kunci jawaban UN.
Dan juga UN membuat generasi muda yang tidak dapat mengapresiasikan bakat dan kreatifitasnya. Jiwa-jiwa kreatifitas dan seni mereka telah terbelenggu dengan adanya UN. Mereka tertekan karena harus terus belajar hal yang mungkin tidak mereka sukai. Contohnya saja matematika, banyak murid yang mengeluh mengapa mereka harus mempelajari itu untuk UN padahal banyak dianatara mereka yang tidak memiliki kemampuan di bidang akademik seperti itu. Mungkin saja kemampuan mereka lebih pada olahraga dan seni. Karena kecerdasan terbagi menjadi beberapa golongan seperti kecerdasan linguistik, kinestik, dll. UN membelenggu mereka karena mereka dituntut untuk menjadi robot yang canggih untuk menghapal suatu materi.
Sudah sepantasnya pemerintah lebih mengkaji lagi mengenai sistem evaluasi belajar. Dan bukankah lebih baik jika pemerintah melakukan evaluasi pada proses belajar bukan semata-mata pada hasil pembelajaran kan?